Saya berusaha mencari hadits-hadits Nabi Muhammad tentang perintah “menyebarkan perdamaian”. Saya menemukan hadits-hadits di bawah ini.

1

حدثنا قتيبة قال حدثنا الليث عن يزيد بن أبي حبيب عن أبي الخير عن عبد الله بن عمرو أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الإسلام خير قال تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف

Terjemah:

Qutaibah menceritakan kepada kami, al-Laits menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abi Habib dari Abi al-Khair dari `Abdillah bin `Amru bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Manakah Islam yang baik itu?” Rasul berkata: “Engkau memberi makan, membacakan salam   kepada orang yang engkau ketahui atau tidak” (HR. Bukhari, dalam kitab al-Iman, bab Ath`imu ath-Tha`am min al-Islam, hadits No. 11 dan 27).

Takhrij:

  1. Muslim, dalam kitab al-Iman, No. 56
  2. Tirmidzi, dalam kitab Ath`imah an Rasulillah, No. 1778.
  3. Nasa’i, dalam kitab al-Iman wa Syara`iuhu, No. 4914.
  4. Dawud, dalam kitab al-Adab, No. 4520.
  5. Ibnu majah, dalam kitab al-Athimah, No. 3244; dan kitab al-Adab, No. 3684.
  6. Ahmad, dalam kitab Musnad al-Mukatstsirin min ash-Shahabah, 6293 dan 6552.
  7. Darimi, dalam kitab al-Ath`imah, 1991

Read the rest of this entry »

Teks Ratib al-Athas

Posted: May 2, 2012 in Tasawuf
Tags: ,

  اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ …) سُوْرَةُ الْفَاتِحَة.

 

 1اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (ثَلاَثًا)

 2 لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْم.

Read the rest of this entry »

Buku yang ditulis oleh Douglas E. Ramage berjudul Percaturan Politik di Indonesia, diterbitkan Mata Bangsa, mengutip perkataan-perkataan Gus Dur, terutama didasarkan atas wawancaranya dengan Gus Dur. Di antara kutipan-kutipan itu saya susun kembali dalam tiga bagian penting, yaitu: Negara Pancasila, NU, dan ICMI. Selanjutnya bisa dlihat dan dibaca di bawah ini:

Read the rest of this entry »

      إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم – الفاتحة-

1.   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ

      الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ

2.   اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ  وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.

3.   آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.

Read the rest of this entry »

Berbicara tentang tradisi dan modernitas dalam pandangan Gus Dur, mesti dimulai dengan pengertian tentang kebudayaan atau budaya. Menurut Gus Dur kebudayaan adalah “seni hidup yang mengatur kelangsungan hidup dan menjadi pilar-pilar untuk menjaga tatanan sosial. Dengan kata lain kebudayaan adalah suatu yang luas mencakup inti hidup dari kehidupan suatu masyarakat”; atau “penemuan suatu masyarakat dalam arti buah yang hidup dari interaksi sosial antara manusia dan manusia, kelompok dan kelompok, dan kebudayaan hanya menjadi kebudayaan kalau ia hidup dan mengacu pada kehidupan.” Pengertin ini adalah pengertian budaya secara luas.

Karena kebudayaan berhubungan dengan masyarakat, maka kebudayaan juga dimaksudkan Gus Dur dengan “kolektivitas dari pengalaman lahir dan batin seluruh warga masyarakat, baik didasarkan pada metabolisme biologis atau kebutuhan psikologis, dan kecanggihan pemikiran.” Akan tetapi Gus Dur juga menyebutkan: “Budaya adalah kegiatan berpikir, bertindak dan merasa yang dilakukan masyarakat yang menampilkan identitasnya sebagai suatu kesatuan.” Definisi ini menjembatani arti luas dan sempit yang berkembang tentang budaya: pertama, yang luas berarti “keseluruhan pola perilaku sosial dan individual manusia di suatu kawasan (atau dalam pengertian di atas); kedua, pengertian sempit, yaitu “buah penalaran dan pandangan belaka, sehingga mengarah pada hasil seni dan sastra.”

Read the rest of this entry »

KH. Husein Muhammad mengatakan: “Orang-orang  yang dekat dengan Gus Dur bercerita bahwa jika tidak ada teman yang diajak bicara dan beliau sedang sendiri, maka dalam waktu yang sepi itu beliau membaca surah al-Fatihah, entah berapa kali, lalu tawassul kepada Nabi dan berdoa  untuk dirinya sendiri, untuk para wali dan ulama yang telah wafat. Itulah jalan (tarekat) spiritualnya” (dalam Gus Dur Bertahta di Sanubari, hlm. 177).

 Penuturan KH. Husein Muhammad ini dapat dirujuk dan dikonfirmasi juga oleh apa yang dinyatakan oleh KH. Said Aqil Siraj. Ketika di Mekkah, cerita KH. Said Aqil Siraj, dia diajak Gus Dur untuk berkunjung dan mencari makam Imam Ali al-Uraidhi (termasuk sesepuh keturunan Nabi Muhammad), dan mencari seorang waskita di sebuah masjid. Gus Dur mengatakan: “Nanti kita membaca  al-Fatihah seribu kali…” Mereka akhirnya menemukan makam Imam `Ali al-Uradhi di tengah perkebunan kurma. Cerita ini dikemukakan oleh KH. Said Aqil Siraj  di berbagai tempat, termasuk di beberapa acara televisi pasca meninggalnya Gus Dur.

Read the rest of this entry »

Alissa Qatrunnada, sang anak sulung Gus Dur mengungkapkan: “…terus bapak juga kalau shalat malam itu di kamar saya, karena kamar bapak memang lebih sempit daripada kamar saya. Setiap saya ngelilir (bangun) saya tahu bapak itu shalat di kamar saya. Kemudian kembali ke ruang tamu…Tapi dia tidak mewajibkan anak-anaknya harus shalat malam. Bapak itu hatinya lembut sekali. Jadi tidak tega kalau memaksakan anak-anaknya. Itu bangun malam bagiannya ibu…” (Gus Dur di Mata Keluarga dan Sahabat, hlm. 48).

 

Dari penuturan Alissa Qatrunnada ini, penulis memahami kaitannya dengan Gus Dur ada dua hal penting: dalam ber- suluk shalat adalah cara yang penting untuk menuju hadirat-Nya; dan Gus Dur membiasakan shalat malam, karena laku ini telah dibuktikan secara ampuh oleh bergenerasi-generasi di kalangan para sufi dan orang-orang shalih-shalihah. Shalat malam membeningkan hati dan salah satu sarana untuk bisa dekat di sisi-Nya, untuk mencapai futuh dan kasyâf.

Read the rest of this entry »