Gus Dur dan Guru Rohani

Posted: April 10, 2012 in Tentang Gus Dur
Tags: , ,

Mahfud MD mengatakan ketika Gus Dur diminta untuk mundur dari Fordem (Forum Demokrasi) oleh Marsillam Saimanjuntak, Gus Dur menjawab bahwa orang yang lebih pantas memimpun Fordem memang orang yang tekun dan teliti seperti Marsillam, lalu Gus Dur mengatakan: “Saya sendiri sudah sangat sibuk. Kata Mbah Hasyim, saya akan segera jadi presiden” (Mahfud MD, Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan, hlm. 254). Di bagian lain Mahfud MD mengatakan: “Kalau sedang berbincang dengan saya, Gus Dur sering bercerita bahwa “tadi malam saya ditemui Mbah Mahdum (Sunan Bonang) atau “Mbah Hasyim berpesan begini…” (Ibid., hlm. 255).

 

Seorang yang menempuh suluk, setelah ia mengalami kekosongan diri dan tumpah ruah dalam gemblengan taubat, ada dua jalan yang mungkin dilakukan, yaitu: mencari seorang mursyid (guru spiritual dalam organisasi tarekat) dan masuk tarekat tertentu untuk membimbing laku suluk-nya; atau melakukan disiplin suluk setelah bisa menguasai dirinya dengan bimbingan guru-guru rohani. Bagi yang mencari mursyid di dalam organisasi tarekat, bisa saja dia mencari setelah adanya kekosongan diri atau setelah tumpah ruah dalam dekapan munâjat taubat. Sedangkan bagi mereka yang memiliki guru-guru rohani, tergantung anugrah Allah kepada sang sâlik. Akan tetapi di tengah kehampaan dan kekosongan diri dan tumpah ruah dalam munajat taubat, pada saat-saat seperti ini, mereka yang dianugrahi bisa didatangi oleh guru-guru rohani.

Gus Dur dalam kutipan di atas, tampak sekali selalu dan sering merujuk pada guru-guru rohani yang membimbingnya, dan yang paling banyak disebut adalah Mbah Hasyim Asy`ari. Tentu saja, penyebutan dua orang itu, Mbah Mahdum dan Mbah Hasyim Asy`ari, haruslah dibaca, kenyataannya jauh lebih luas dan lebih dalam dari itu. Termasuk di antaranya adalah ayahnya sendiri, KH. Abdul Wahid Hasyim, dan lain-lain. Sebab tulisan dan ungkapan yang diceritakan selalu tidak bisa menampung pengalaman spiritual dan fakta sebenarnya pengalaman yang dialami seorang salik, yang jauh lebih luas dan mendalam.

Salah seorang anak Gus Dur, yaitu Inayah Wulandari menyebutkan: “Bapak pernah mengatakan, dalam bertindak beliau selalu ta’dzim kepada lima orang kiai sepuh… Bapak sih sering cerita tentang kiai-kiai yang beliau kagumi. Tetapi tidak pernah cerita kelima kiai sepuh ini” (Gus Dur di Mata Keluarga dan Shabat, hlm. 69-70). Alissa Qatrunnada, anaknya yang sulung juga menyebutkan: “Tentang siapa lima kiai sepuh yang sering bapak sebut, saya pribadi tidak tahu. Bapak juga tidak pernah cerita ke situ. Memang dalam beberapa hal bapak tidak terlalu terbuka. Ada hal yang tidak dikasih tahu ke keluarga” (Ibid., hlm. 52).

Dalam dialog dengan Kick Andy yang rekamannya telah beredar luas, misalnya, Gus Dur juga mengungkapkan bahwa selama ini dirinya hanya menjalankan amanah dan mandat dari 5 kiai sepuh. Dengan dibaca sebagai metafor, mereka ini bila memerintahkannya untuk masuk api, maka dia (Gus Dur) juga akan masuk api. Penyebutan “masuk api” ini hanyalah tamtsîl untuk mengungkapkan bahwa dalam banyak hal, apa yang dilakukan Gus Dur adalah bagian dari perintah kiai-kiai sepuh ini. Namanya tidak disebut, dan bukan merujuk pada Kiai Khas yang bernuansa politis yang sering bertemu ketika PKB masih eksis, yang sebagiannnya kemudian mendirikan PKNU: bukan mereka.

Tidak hanya itu, menurut cerita KH. Cholil Bishri, bahkan hubungan Gus Dur dengan para amwât, yaitu mereka yang telah meninggal sangatlah akrab, yang menegaskan intensnya hubungan kerohanian ini: “Gus Dur sering menceritakan kepada saya. Dia pernah mengatakan di Lereng Gunung Tangkuban Perahu ada makam seorang wâliyullâh. Makam  Sunan Bonang itu sebenarnya ada di Medalem, Senori, tidak di Tuban atau di Madura seperti kata orang selama ini. Komandan auliyâ’  di Jakarta itu disemayamkan di luar Batang, Tanjung Priok. Sedang panglimanya adalah Sunan Ampel Surabaya. Dan masih banya lagi cerita Gus Dur tentang amwât. Menurut amwât, negeri kita akan begini dan begitu. Begitu pernah dikatakan kepada saya” (dalam Gila Gus Dur, hlm. 112-113).

Cerita KH. Cholil Bishri ini memperkuat dan menggambarkan bahwa hubungan Gus Dur dengan para guru rohani atau guru-guru yang telah meninggal (amwât), sangat luas dan mendalam. Di dalam tradisi Nahdliyin hal seperti ini sering terjadi dan dialami oleh guru-guru yang bersih dan hebat. Hanya saja, kekhasan Gus Dur, menurut KH. Cholil Bishri: “Biasanya kiai sepuh yang berhasil menerima wangsit (dari amwât atau istikhârah) tidak menceritakannya secara utuh dan lugas. Mereka menyampaikannya secara isyarat dan mlipir-mlipir. Lain dengan Gus Dur yang tidak jarang menceritakan apa adanya” (Ibid., hlm. 113).

Gus Dur sendiri juga mengatakan: “Kiai-kiai yang rajin tirakat sering dititipi salam untuk saya dari para mendiang (maksudnya amwat dari guru-guru sempurna-pen.). Jadi, apa yang dialami dan dilakukan Gus Dur, dengan mengutip guru-guru rohani, yang tentu dalam kenyataannya jauh lebih dalam dan luas dari apa yang diceritakan, menggambarkan satu jenis dimensi dalam disiplin tasawuf dan laku suluk. Satu dimensi yang mencerminkan laku suluk dengan dibimbing oleh guru-guru rohani yang telah sempurna, dan khususnya para amwât. Mereka yang tidak memiliki kenyamanan dengan disiplin tasawuf, jauh lebih tidak ada gunanya untuk membicarakan hal ini, dan karenanya pula tidak akan memberikan bekas manfaat baginya, karena dalam pikirannya sejak awal sudah menolak tasawuf. Demikian juga, mereka yang suluk-nya hanya mengenal dan harus masuk dalam organisasi tarekat, dan tidak ada jenis lain, juga tidak akan mengetahui hal ini, kecuali mereka yang telah mencapai, dalam istilah seorang guru yang bercerita kepada saya, disebut sebagai “murysid bintang”: mursyid yang telah sempurna, negerti sakduruning winarah.

Meski begitu, mereka yang pernah membaca kitab Nafahât al-Uns min Hadhrat al-Quds karangan Syaikh Abdurrahman Jami’, seorang sufi yang hebat, akan dengan mudah bisa memahaminya. Apalagi mereka yang telah merasakan dan mengalaminya sendiri, akan dengan mudah pula untuk bisa mempercayainya. Dalam kitab Nafahât al-Uns min Hadhrat al-Quds itu disebutkan oleh Syaikh `Abdurrahman Jami’ dengan mengutip Syaikh Fariduddin al-Athar begini: “Ada sebuah komunits wali Allah yang disebut sebagai masyâyikh Uwaisyiyah. Mereka secara formal tidak membutuhkan arahan seorang syaikh, sebab Nabi Muhammad Saw. sendirilah yang membimbing mereka secara langsung, tanpa perantaraan seorang guru, melalui media mimpi, sebagaimana kasus Uwaisy al-Qarni. Ini adalah maqam agung, dan itu adalah kemurahan Allah yang diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan, mengikuti laku Rasul itu, beberapa wali sempurna membimbing beberapa murid setelah kematian mereka dengan spiritualitas mereka. Uwasy al-Qarni tidak memiliki guru secara formal, dan wali yang demikian itu dikenal juga sebagai Uwasyiyah”  (hlm. xIvii).

Lebih dari itu, ada juga mahaguru sufi yang mengalami dua hal sekaligus:  sebagian ada yang berguru secara fisik kepada seorang syaikh tarekat, dan sekaligus juga berguru secara rohani kepada amwât. Syaikh Akbar Ibnu `Arabi, di antaranya pernah mendapat bimbingan dari Syaikh Abu Madyan al-Ghauts, wali penuh karamah di Maghrib, bukan lewat pertemuan fisik (termasuk Ibnu Arabi juga sering bermimpi bertemu Nabi Muhammad, Khidir, dan Abu Yazid al-Busthami); dan pada bagian selanjutnya juga berguru dengan guru-guru secara fisik, seperti Syaikh Abul `Abbas al-`Uryabi, dan guru-guru lain.

Banyak guru sufi selain Ibnu `Arabi  juga ada yang seperti itu, seperti dialami oleh mahaguru Tijaniyah, Ahmad at-Tijani. Pada awalnya, Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani pada usia 20 tahun, banyak mengunjungi guru-guru sufi dan mempraktikkan wirid-wirid. Bahkan kemudian di bidang spiritual, at-Tijani mempelajari berbagai macam tarekat, terutama Khalwatiyah dan Sammaniyah. Akan tetapi kemudian ia memperoleh penyingkapan dan dibimbing langsung oleh Rasulullah, sampai akhirnya diperintahkan untuk melanggengkan wirid-wirid yang kemudian dikenal dalam wirid-wirid Tijaniyah.

Tentang Gus Dur, maka yang tampak secara lahir adalah dia tidak ikut organisasi tarekat, tetapi menempuh suluk-nya dengan bimbingan rohani dari guru-guru yang telah mencapai maqam tinggi di sisi-Nya. Mimpi-mimpi bertemu dengan para guru, utamanya dengan Mbah Hasyim Asy`ari adalah menggambarkan sejatinya mereka ini (para amwât) adalah guru-guru pembimbingnya. Tentang Mbah Hasyim, Gus Dur di berbagai tempat sering bercerita.

Gus Dur menyebutan: “Almarhum KH. Hasyim Asy`ari dari Tebuireng termasyhur dengan tongkatnya, yang hanya akan mengenai mereka yang bersalah atas suatu perbuatan saja jika dilemparkan sekenanya ke tengah-tengah kelompok santrinya. Seorang kiai di daerah Kediri dewasa ini, termasyhur kuat mengangkat sebatang pohon kelapa yang panjangnya  20 meter seorang diri saja, dan demikian seterusnya” (dalam Islam Kosmopolitan, hlm. 100).

Gus Dur mengungkapkan: “Orang-orang semacam KH. Mahfuzh Termas dan KH. Hasyim Asy`ari, justru tidak dikenal sebagai tokoh-tokoh tarekat dan tidak mengenal sufisme sebagai orang dalam, melainkan sebagai sarjana-sarjana yang memiliki kualifikasi sendiri di bidang ilmu pengetahuan tanpa harus bertopang pada hierarki ketarekatan” (dalam Islam Kosmopolitan, hlm. 132).

Gus Dur di tempat lain juga menyebutan: “Hal ini diperkuat antara lain dalam sikap almarhum KH. Hasyim Asy`ari, pendiri NU. Beliau menolak dirayakannya ulang tahun kematian beliau (haul) di Tebuireng, Jombang, tiap setahun sekali. Beliau mengetahui dengan tepat bahwa suatu saat beliau akan disucikan (maksudnya oleh orang-orang-pen.). Kalau ini yang terjadi, tentu disebabkan oleh ketidakmengertian orang awam terhadap kesaktian yang dimiliki” (dalam Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat, hlm. 105).

Penjelasan tentang Mbah Hasyim di atas menggambaran pengakuan Gus Dur terhadap kualifikasi spiritual Mbah Hasyim. Gus Dur mengingatkan bahwa banyak orang yang tidak faham soal larangan Mbah Hasyim tentang haul di Tebuireng, yang menurutnya sebenarnya adalah untuk menghindari penyucian dirinya (Mbah Hasyim), karena menurut Gus Dur, Mbah Hasyim sadar suatu ketika ia akan dihormati, bahkan disucikan. Sedangkan bagi yang mengetahui posisi dan kualifikasi spiritual Mbah Hasyim, atau yang merasakan bimbingannya secara rohani, maka sudah memahami tentang kehebatan dan kesaktian Mbah Hasyim. Ini diperkuat dengan kenyataan bahwa sebagian guru-guru di kalangan Nahdliyin, termasuk Gus Dur, sering ditemui Mbah Hasyim. Bahwa mahaguru ini, dijadian poros dalam geraan Nahldiyin ketika organisasi ini didirikan sampai ia meninggal (sampai-sampai disebut Ra’is Akbar), sudah menunjukkan dengan terang benderang tentang kehebatannya, bukan saja soal ilmu-ilmu lahir, tetapi juga ilmu-ilmu batin yang berkaitan dengan  al-wushûl dan al-ittishâl.

Kembali pada apa yang disebutan Syaikh `Abdurrahman Jami’, guru-guru yang sempurna, mengikuti Nabi, memberikan bimbingan secara rohani atas kehendak Allah kepada mereka yang dikehendaki. Dan, Gus Dur, dalam hal ini, adalah salah seorang yang dibimbing secara rohani oleh guru-guru rohani, seperti Mbah Hasyim, dan ini diceritakannya sendiri. Oleh karena itu, laku suluk Gus Dur tidak bisa dihubungkan dengan tampakan lahirnya sebagai pengikut organisasi tarekat tertentu. Bahwa cerita-cerita, di antaranya dikemukaan oleh salah seorang muridnya, dan kami dengarkan bersama di Jakarta, Gus Dur mendapatkan kehormatan memimpin para guru sufi, adalah soal lain.

Sedangkan tentang pengakuan seseorang sâlik dan guru sufi sebagaimana Gus Dur, misalnya bertemu dengan Nabi atau wali yang sempurna (yang telah meninggal) dijelaskan oleh para ahli tarekat di kalangan NU: “Pengakuan orang itu haqq (benar-benar), sebab setan tidak bisa pura-pura sebagai wali yang sempurna. Keterangan tentang ini dari kitab Tanwîr al-Qulûb, hlm. 40 berbunyi “sebagian ulama kasyaf mengatakan bahwa Allah menugaskan malaikat di makam para wali untuk memenuhi kebutuhannya dan kadang-kadang wali tersebut keluar dari makamnya kemudian memenuhi kebutuhannya dengan sendirinya… Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai rupa wali yang sempurna sebagaimana ia tidak bisa menyerupai Nabi Saw” (dalam al-Fuyûdhâtu ar-Rabbâniyah fî Muqarrarât al-Mu’tamarât wa al-Musyawarât li Jam`iyyah Ahli ath-Tharîqah an-Nahdliyyah, hlm. 162-163). Jadi, tentang Gus Dur soal ini sudah jelas. Sedangkan bagi yang mengingkari tentang pertemuan dengan para wali sempurna adalah hak mereka sendiri; sebagaimana hak mereka untuk mengatakan jalan tasawuf adalah sesat. [nur khalik ridwan] bersambung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s