Gus Dur dan Jalan Taubat

Posted: April 10, 2012 in Tentang Gus Dur
Tags: ,

Gus Dur sering melantunkan munâjat taubat atau permohonan kepada Allah agar diampuni segala kesalahannya, dengan qashîdah yang sangat terkenal: Ilâhî lastu li al-firdausi ahlân, walâ aqwâ `alâ an-nâri al-jahîmi. Fahablî taubatan waghfir dzunûbî, fa’innaka ghâfiru dzanbi al-azhîmi. Artinya:Wahai Tuhanku, aku bukanlah orang yang pantas masuk surga, tetapi aku juga tidak kuat dengan api neraka, karena itu berikan kepadaku kemampuan bertaubat dan ampuni dosa-dosaku, karena hanya Engkaulah yang bisa memberi maaf atas dosa-dosa yang besar.”

Munâjat taubat itu, dapat dijumpai di berbagai CD yang beredar secara luas, ketika Gus Dur sedang berbicara dalam sebuah acara di Malang. Beberapa kesaksian juga dapat dilihat dalam versi MP3 munâjat Gus Dur tentang qashîdah di atas, yang juga sudah beredar luas di masyarakat. KH. Husein Muhammad juga menuturkan itu dalam buku Gus Dur Bertahta di Sanubari (hlm. 178).

Dalam versi yang panjang munâjat ini, berbunyi:

اِلٰهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ اَهْلًا
وَلَا اَقْوٰى عَلٰى نَارِ الْجَحِـيْمِ
فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَّاغْـفِرْ ذُنُـوْ بِي
فَاِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ

 

Wahai Tuhanku, aku bukan orang yang pantas tinggal di surga Firdaus.

tetapi aku juga tidak sanggup di neraka Jahim.

Anugrahi aku kemampuan untuk taubat kepada-Mu dan ampuni dosa-dosaku.

Karena hanya Engkaulah yang bisa memberi ampun.

ذُنُوْبِيْ مِثْلُ اَعْدَادِ الرِّمَالِ
فَهَبْلِيْ تَـوْبَةً يَا ذَا الْجَلَالِ
وَعُـمْرِيْ نَاقِصٌ فِيْ كُلِّ يَـوْمٍ
وَذَنْبِيْ زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

 

Dosa-dosaku bak butiran pasir di bumi.

Anugrahi aku kemampuan kembali kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Agung. Umurku terus berkurang setiap hari.

 Tetapi dosaku bertambah-tambah saja, bagaimana aku sanggup menanggungnya.

اِلٰهِيْ عَبْدُكَ الْعَاصِيْ اَتَاكَ
مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
فَاِنْ تَغْفِرْ فَاَنْتَ لِذَاكَ اَهْلٌ
وَاِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْا سِوَاكَ

Wahai Tuhanku, hambamu yang berdosa ini telah datang kepada-Mu.

Sambil mengakui begitu banyak dosa, dan sungguh-sungguh telah meminta-Mu.

Bila Engkau mengampuniku, karena memang hanya Engkaulah yang bisa mengampuni.

Tetapi bila engkau menolakku, kepada siapa lagi aku berharap.

Apa yang diungkapkan Gus Dur dengan munâjat doanya pada dasarnya banyak juga dilakukan dan dilantunkan kalangan masyarakat Nahdliyin di desa-desa, kiai-kiai, dan anak-anak muda NU. Gus Dur mentransformasikan munâjat taubat untuk dirinya. Teks munâjat taubat ini, juga penulis temukan dalam kumpulan doa-doa yang ditulis tangan tercetak tanpa menyebut sang penulis, dan beredar di Jawa Timur, termasuk di Banyuwangi. Kumpulan doa-doa ini menghimpun Râtib al-Haddâd, Shalawat Badar,  istighâtsah, dan lain-lain. Dalam versi ini, doa munâjat itu ditulis versi yang agak panjang sebagaimana di atas, dan dikhususkan sebagai doa setelah shalat Jum’at. Versi lain, munâjat taubat ini telah dinyanyikan Hadad Alwi dan telah menyebar luas di kalangan masyarakat Indonesia.

Ada yang menyebutkan munâjat taubat itu dikemukakan oleh Abu Nuwas. Gus Dur sendiri menyebutkan bahwa: “Abu Nuwas, seorang penyair yang sarkastik, tetapi dipakai di pesantren syairnya yang ini… Aduh Allah, aku sebenarnya bukan orang yang patut jad ahli surga, tapi  aku juga tidak kuat di neraka… (dalam buku Tabayun Gus Dur, hlm 142). Disadari memang, dalam sejarah, Abu Nawas sebagai seorang sastrawan kelakar yang banyak mengabaikan lahir syari’at, termasuk minum khamar. Akan tetapi di akhir hayatnya, tampak dalam sya’ir I’tirâf-nya atai Dîwân-nya, dia mengalami perubahan, dengan mengungkapkan kezuhudan, dan karenanya melakukan pertaubatan seperti tampak dalam bagian az-Zuhdiyah (atau Zuhud) dalam Dîwân Abî Nuwâs terdiri dari 30 judul.

Salah satu ungkapan Abu Nuwas dalam fase zuhudnya begini:

Jangan kau kosongkan jiwamu dari kesibukan dunianya. Aku Tahu jiwa itu tidak bisa diraih oleh orang yang mengharapkannya// Meskipun kita telah banyak mengumpulkan harta dunia. Namun sebenarnya hanya sedikit yang bisa kita dapatkan// Kuingatkan kepadamu agar harta yang melimpah itu tidak mempengaruhimu. Karena ia hanya pakaian yang kau gantungkan kepada Allah// Alangkah sengsaranya kulit di atas tulang yang terbakar. Di dalamnya terdapat rongga-rongga kosong yang apabila engkau bicarakan hanya akan menimbulkan kesombongan// Hendaklah engkau melihat keutamaan yang nyata di situ. Hingga dirimu memperoleh kehormatan di situ// Hai pengumbar dan pengikut nafsu, engkau telah berbohong. Wahai pelayan dan budak dunia// Aku benar-benar membenci jiwaku karena kesombongannya, maka bagaimana aku menghindari kebencian Allah terhadapnya// Kamu adalah dzat hina yang tidak bisa melampaui, keutamaan dunia ketika ia menjanjikan kemanisannya// Wahai pengendara dosa, jika kematiannya telah tiba, apakah hari-harimu tidak takut akan siksa-Nya (Dalam Dîwân Abî Nuwâs, hlm. 613, diedit Ahmad Abdul Majid al-Ghazali).

Abu Nuwas, yang oleh sebagian orang diangap sebagai salah seorang sufi, tetapi berperan dalam kerangka kelakaran, toh mengalami penyesalan/kezuhudan, seperti tampak dalam bagian sya’ir zuhud-nya. Demikian pula, setiap orang yang menempuh dunia suluk, taubat merupakan pendakian yang mesti dilakuan sebagai fondasi penting dalam melakukan disiplin suluk selanjutnya. Begitulah, setelah seorang sâlik mengalami kekosongan diri, lalu muncul kesadaran untuk ber-suluk, sebagai manusia baru, yang merasakan betapa dia didodor-dodor dalam jiwanya untuk bertaubat. Meski begitu, bagi seorang muslim, taubat tidak perlu menunggu fase pengosongan diri menyergapnya, karena taubat perlu dan harus dilakukan setiap saat.

Hanya saja, taubat yang digerakkan oleh keinginan yang mendodor-dodor jiwa tidak bisa dipaksa-paksa dan pura-pura: dia akan muncul sebagai bagian dari laku yang akan menghantarkan sâlik pada jenjang berikutnya. Oleh karena itu, Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah menyebutkan: “Proses awal yang menghantarkan tahapan ini tidak lepas dari peran taufîq (pertolongan Allah). Dengan taufîq, sang sâlik mampu mendengarkan suara nuraninya tentang larangan-larangan al-Haqq yang dilanggarnya” (hlm. 118).

Taubat yang sering diungkapkan Gus Dur mengajarakan beberapa hal penting: pertama, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah dihadapkan dengan kenyataan luasnya alam, kebesaran dan kekuasaan Tuhan, bekerjanya alam sesuai dengan hukum yang ditentukan Tuhan, dialektika terus menerus yang tidak bisa dikendalikan seorang manusia, dan ini begitu kuat dirasakan setelah munculnya kekosongan diri. Kesadaran tentang kelemahan diri menghantarkan diri pada penilaian, muhâsabah, dan mengingat kembali perjalan hidup sang sâlik di tengah kedigdayaan Sang Maha Kuasa, yang Maha Pengampun.

Dari proses muhâsabah di tengah penilaian kelemahan diri itu, timbul kesadaran betapa manusia hanya menjadi bagian dari satu skrup kehidupan yang luas.  Sang manusia, setelah merasa perkasa di dunia, ternyata tidak sampai seabad rambutnya sudah memutih, lalu  dia merasa tua dan tidak kuat apa-apa, kemudian meninggalkan dunia yang semu. Kegagahan, ketampanan, kecantikan, dan keperkasaan, apalagi kesombongan, akan tunduk pada kematian, dan manusia harus melanjutkan perjalanan ke alam barzakh, dengan meninggalkan catatan perilaku-perilakunya.

Kedua, perlu adanya penyesalan mendalam dalam fase-fase hidup seseorang, yang selama ini lalai, abai, dan berbuat banyak kekejaman, penindasan, mendurhakai Tuhan, tidak sembahyang, tidak puasa, berzina, korupsi, mencuri, dan lain-lain jenis kesalahan kepada Tuhan, manusia, dan alam. Kondisi ini akan menhunjam dalam diri, karena dengan kekosongan diri dan taufîq-Nya, seorang sâlik telah terkondisikan untuk hidup baru dan kekuatan yang datang menyergap dirinya, tidak lagi bisa ditolak. Akhirnya penyesalan membuahkan perenungan, muhâsabah, dan memohon ampunan dosa kepada Tuhan: Sang Maha Pengampun.

Seseorang dalam munâjat taubat seperti ini bisa bercucuran air mata, bisa ambruk, dan bisa merasakan betapa Tuhan Maha Welas Asih, sekaligus Maha Perkasa. Seseorang yang pernah bersalah, diberi kesempatan untuk bertaubat, diajak-Nya kembali, disadarakan untuk kembali ke asal-Nya. Sang penulis juga ber-munâjat: “Oh Tuhanku, dosaku yang menumpuk, tidak sanggup kutanggung dan karenanya tidak pantas aku masuk surga; tetapi panasnya api neraka membuatku tidak kuat untuk masuk di dalamnya. Aku hanya berharap Welas Asihmu, atas dosa-dosaku yang lampau, yang begitu besar, ampunilah, karena Engkaulah Dzat yang Maha Pengampun. Kalau tidak Engkau, kepada siapa aku berharap.”

Munâjat taubat bagi seorang sâlik mengantarkannya pada kehidupan baru. Karena kekosongan diri, penyesalan diri atas segala dosa yang dirasakannya secara spiritual itu, tanpa lagi perlu mendebat, melawan, dan menampik. Zaman mendebat itu sudah berakhir, zaman itu adalah kegelapan spiritual, dan zaman itu sudah ditinggalkan.  Gilirannya adalah pendalaman diri, hati, roh, dan kesadaran batin terdalam untuk memenuhi panggilan-Nya; dan untuk bersyukur atas panggilan-Nya itu.

Ketiga, penyesalan menghantarkan peninggalan atas apa yang pernah dilakukan, dan ini syarat mutlak: peninggalan ini harus setimpal dengan apa yang dirasakan telah salah diperbuat. Dalam bahasa lain, seorang sâlik harus melakukan takhalli (pengosongan diri), dari hal-hal buruk yang membuat dirinya tidak menambah dekat dengan Allah. BiIa sebelumnya seseorang melakukan tindaan pencurian, maka tindakan pencurian itu sudah harus dihentikan dan tida boleh melakukan pencurian; bila sebelumnya berzina, maka tindakan ini juga mutlak harus dihentikan; bila sebelumnya durhaka kepada ibu dan bapak, maka perbuatan ini mutlak juga harus dihentikan; dan begitu seterusnya.

Dalam tahap awal praksis dan pergumulan laku taubat, seseorang harus hijrah dari kawan-kawannya yang buruk: hijrah ini pertama-tama harus benar-benar dalam pengertian fisik, karena kawan-kawannya yang mendorong ke arah yang menjadikan dia bertaubat, akan bisa mengajaknya kembali ke jalan yang lama dan dia menjadi bimbang. Gus Dur dalam hal ini juga pernah mengutip Ibnu Athaillah as-Sakandari, yang menyebutkan: “lâ tashhab man lam yunhidhuka ilallâh hâluh, walâ yadulluka ilallâh maqâluh (Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang hal ihwalnya tidak membangkitkan kamu kepada Tuhan, dan janganlah berteman dengan orang yang ucapan-ucapannya tidak menunjukkan kamu kepada Allah) (“Asal Usul Keilmuan Tradisi Pesantren”, dalam Islam Kosmopilitan, hlm. 129).

Kalau sudah kuat menghadapi segala jenis godaan dari persahabatn fisik dengan sahabat-sahabat lamanya, maka hijrah di situ, juga berarti tidak menjadikan telinga dan bisikan-bisikan dari kawan-kawannya yang mendorong kepada perilaku buruk ditampung dalam jiwanya, dan juga tida diikuti dalam akalnya yang bisa menjadi bumerang. Baru, kalau sudah bisa melakukan ini, maka laku selanjutnya adalah tapa brata dalam keramaian, dan persahabatan dengan siapapun tidak akan lagi menyebabkan kegentaran spiritual. Akan tetapi kondisi terakhir ini, tidak semua orang bisa melakukan, dan karenanya, hanya orang-orang pilihan yang sanggup melakukannya. Dalam hal ini, Gus Dur adalah di antara orang-orang pilihan yang bisa melakukan tapa brata di tengah keramaian; bersahabat dengan siapa saja, karena dia sudah menjadi otoritas untuk tidak dikendalikan,  tetapi dialah yang bisa menguasai dirinya.

Dalam kasus lain, orang kemudian lebih tertarik meninggalkan kawan-kawannya yang mendorongnya untuk berperilaku buruk, dan kemudian melakukan uzlah total; dan ada juga yang memberikan batasan-batasan sendiri untuk menyelaraskan antara dirinya dengan umat manusia, yaitu bagi mereka yang tidak berposisi sebagai pemimpin umat, imam, dan penggerak masyarakat. Bagi mereka yang dalam posisi ini, seperti Gus Dur, maka yang dilakuan adalah melakukan topo ngrame: di tengah keramaian justru bersahabat dengan siapa saja, dan terjun di tengah masyarakat, dengan tetap melakukan laku spiritual, dzikir sirr, dan seterusnya.

Keempat, peninggalan atas hal-hal yang buruk yang disadari secara spiritual sebagai salah, menghantarkan pada perlunya tindakan dan perilaku penyucian diri, melakukan mujâhadah, yang biasa disebut dengan tahalli (menghias diri dengan laku-laku terpuji). Dengan sendirinya, seorang salik mencari ilmu-ilmu yang paling dasar agar bisa mencurahkan segala mujâhadah rohaninya, yaitu tentang sembahyang, puasa, dan kewajiban-kewajiban elementer lain. Mereka yang dibimbing oleh seorang mursyid tarekat, dengan sendirinya akan mengikuti kewajiban-kewajiban yang dibebankan dalam tarekatnya. Sedangkan mereka yang mampu menguasai imajinasinya dan menempuh suluk dengan  dibimbing secara rohani oleh guru-guru min al-amwât, akan melakukan kewajiban-kewajiban syari’at yang paling elementer, karena itu menjadi syarakat mutlak, seperti shalat, puasa, dan ha-hal lain.

Masing-masing orang yang bertaubat itu, memiliki perbedaan dalam substansi taubatnya, karena perbedaan kesadaran yang dirasakan: pertama, ada yang bertaubat karena semata takut siksaan neraka, dan ini meski masih baik, tetapi belum menjadi laku seorang yang tengah bersuluk ingin dekat dengan Tuhan; kedua, mereka yang bertaubat karena ingin mendapatkan pahala, dan ini meski baik dan tidak salah, tetapi juga masih ada di bawah mereka yang ketiga; dan ketiga, tobat dengan  tidak lagi mengharapkan pahala, tidak lagi takut dengan siksaan neraka, karena semua telah dilampaui (itu artinya pernah dilakukan), dan taubatnya sebagai ungkapan syukur, malu kepada Tuhan, dan laku yang mengharuskan demikian sebagai tatakrama kepada Tuhan.

Sedangkan bagi sâlik, tobat yang telah mencapai derajat semata karena malu dengan kemuliaan-Nya, akan sangat berguna bagi kelangsungan dan terusnya suluk; dan tobat karena tatakrama terimakasih atas jalan yang ditunjukkan-Nya, dengan cara penyesalan, peninggalan hal-hal buruk, dan pengisian-pengisian dengan perbuatan baik, akan sangat menentukan bagi kelanjutkan ber-suluk. Semua ini, akan membuahkan penyingkapan dan isyarat-isyarat gaib tentang diterimanya taubat. Biasanya akan diungkapkan lewat sapaan mimpi. Dengan kata lain, berbagai jenis taubat yang diterima kadang diungkapan lewat penyaksian mimpi. Mimpi-mimpi ini, bagi sang salik, setelah terjaga akan memberikan pengertian mendalam bahwa seorang yang serius bertaubat, pada akhirnya Tuhan maha pengampun. Ini akan menambah kokohnya iman dan mujâhadah selanjutnya.

Selain ada yang diberi tanda mimpi, tanda-tanda lain di antara mereka yang ikhlas bertaubat, dengan sendirinya akan memperbanyak dzikir istighfâr, sebagai ungkapan syukur kepada-Nya, malu atas kemulian-Nya, yang rahmat-Nya begitu luas, yang telah menerima-Nya kembali. Selain itu, tanda-tanda lahir  akan tampak kalau sang sâlik: terjadi perubahan dalam perilakunya yang setimpal dari apa yang telah dilakukan dan disadarinya sebagai kesalahan; dan menambah perbuatan-perbuatan baik, baik kepada Allah secara langsung atau kepada umat manusia, dan alam.

Oleh karena itu, kalau terlihat perilaku-perilaku jenis ini, meskipun orang itu tidak mengalami mimpi yang memberikan isyarat-isyarat diterimanya taubat, maka taubat yang dilakukan memang telah benar-benar serius dilakukan sang sâlik, sampai ajal menjemput-Nya. Sebaliknya, bila seseorang melakukan kejahatan dan kesalahan yang telah disadarinya, tetapi dilakukan kembali kesalahan-kesalahan sampai berulang-ulang, maka taubat yang dilakukannya bukanlah taubat yang serius dan bukan taubat nashuha: di titik ini, sang salik sudah gagal untuk menempuh maqam taubat.

Dengan menyebarkan munâjat taubat yang diperuntukkan khalayak dan masyarakat luas, Gus Dur mengajarkan kita untuk kembali agar memiliki niat suci, berperilaku baik, dan melakukan kebaikan-kebaikan untuk membenahi apa yang telah disadari sebagai kesalahan di masa lalu. Bagi yang tidak memiliki kesadaran telah melakukan kesalahan dan kelemahan diri, hanya akan membanggakan diri yang sejatinya adalah kesombongan, maka orang seperti ini lebih jauh lagi untuk bisa mengerti dan ber-munâjat taubat secara ikhlas. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu bertaubat, dan Allah memberikan pengampunan karena taubat kita; dan semoga dari situ kita bisa menjadikannya sebagai laku syukur karena kemulian-Nya, yang pada gilirannya menjalankannya dengan istiqamah sebagai tatakrama kita kepada Yang Maha Mulia dalam ber-suluk. [nur khalik ridwan] bersambung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s